whenever you make dua and shaytan tries to remind you of how much of a bad person you are and how many sins you have committed,...
Exam panic doodle, artblock doodle, random doodle, pre-exam doodle, ARTBLOCK DOODLE ughuhu…
L for librarian (ilustración de Paul Thurlby)
Ingat, ini Tahu Gejrot, bukan Tahu MakErot. #food #indonesianfood #cirebon #instanusantara #instafood #instagram #Indonesia #westjava
Capung Jarum. Di Jakarta, susah menemukan capung kayak gini lagi. #capung #dragonfly #instaplant #instanusantara #Indonesia #instagram #animals
Oleh. A. Muaz
*Kolom Tafakur, Majalah Hidayah, Edisi 122.
Dulu, ia perempuan yang matanya penuh binar cahaya. Di benaknya selalu meletup ide-ide ihwal apa saja. Mimpinya. Cita-citanya. Semua seakan bagian dari drinya. Padu. Satu. Tak terpisahkan. Ia adalah jenis hawa yang ingin membuktikan bahwa perempuan berhak punya cita-cita dan pilihan hidup yang layak; bisa bekerja, bisa mandiri, bisa berkarya, bisa juga berumahtangga dengan baik.
Dulu, ia aktivis mahasiswi yang daftar kegiatanya segudang; bergiat di BEM [Badan Eksekutif Mahasiswa], beberapa organisasi ekstra kurikuler, Unit Kegiatan Mahasiswa [UKM], hingga berbisnis MLM [Multi Level Marketing] kesukaaanya. Ia mandiri. Ia kuat. Dan satu poin plus lagi, karena wajahnya yang aduhai dan keshalehannya yang memikat, ia konon membuat para lelaki bertekuk lutut dan ingin sekali menikahinya.
“Kamu tahu nggak berapa harga busana muslimah yang dipakai model ini?” Tanya sahabat saya seraya menunjuk sebuah majalah wanita muslim edisi lawas.
“Nggak..” Jawab saya sambil geleng-geleng kepala.
“Coba kamu taksir…” Pintanya lagi.
“Hmm. Paling 300 ribuan…” Jawab saya sekenanya.
“Hahaha. Salah besar.” Responya penuh kemenangan, menertawakan kebodohan saya soal trend busana muslim saat ini.
“Coba tebak lagi….” Karena penasaran, saya meminta sahabat saya itu untuk segera menghentikan kuis tebak-tebakan ini.
“Cukup! Berapa memangnya?”
“Lima juta, Bro.”
Hah. 5 juta rupiah. Edan. Benar-benar tidak masuk nalar saya. Kala itu, jujur, saya sempat istighfar berkali-kali ketika sahabat saya itu membeberkan informasi lainya. Bahwa butik-butik busana muslim sekarang memang mempunyai pelanggan wanita-wanita muslim, kaya, ingin bergaya dan menunjukan status sosialnya. Bahwa label busana muslim itu seperti tak ubahnya busana non-muslim. Lalu, dimana spirit Islami itu bila busana muslim 11:12 dengan busana pada umumnya?
Agaknya, adagium “you are what you wear” itu benar adanya. “Anda adalah apa yang Anda pakai” kian menegaskan bahwa pakaian (dalam dunia Islam) sudah tergerus pemaknaanya; menjadi berlebihan dan menjerumuskan budaya hedonistik. Ah, barangkali saya keliru menafsir kecenderungan saudari-saudari semuslim saya yang berani menggelontorkan fulus jutaan rupiah demi selembar busana itu.
Tapi, saya masih ingat, bukankah Nabi saw pernah bersabda: “Kul maa syi’ta walbas ma syi’ta, maa akhtaatka khaslatani; sarapun wa makhilatun. (Makanlah apa yang Anda senangi dan pakailah apa yang Anda senangi selama itu halal. Yang keliru adalah bila Anda makan dan berpakaian yang berlebih-lebihan atau bertujuan angkuh dan membanggakan diri).”
Hmm. Tidakkah “berlebih-lebihan, angkuh, dan membanggakan diri” sebagaimana disinggung dalam hadits yang saya kutip dari buku Jilbab karya Prof. Quraish Shihab itu bagian dari penegasan agar si pemakai diakui “status sosial”-nya? Dengan demikian, seorang perempuan yang memakai busana muslim yang harganya tidak lagi “rasional” itu secara tak langsung ingin mengabarkan “gue ini lebih berkelas ketimbang diri elu”. Entahlah, barangkali, saya keliru. Adakah modus laten selain demikian? Wallahua’lam.