Rumah maya ini tempat saya belajar dan berbagi sesuatu—yang saya harapkan berefek—positif untuk diri saya sendiri, para pengunjung rumah ini, dan siapa saja yang kebetulan singgah di rumah ini untuk membacanya. Kesibukan utama saya sekarang ini adalah menjadi ayah yang
baik untuk anak saya, berusaha menjadi mitra hidup yang setara untuk istri saya, serta terus berjuang untuk tetap belajar dan berbagi. Sedang kesibukan sampingan saya: menjadi juru tulis dan sunting di PT. Variapop Group [Sebuah Perusahaan Penerbitan Media Islam seperti Majalah Hidayah, Majalah Paras, Anggun, dan Variasari]. E-mail saya jika Anda merasa ingin berbagi ke: muaz.abdillah@gmail.com atau mz_bdl@yahoo.com. Saya juga bisa dihubungi via Facebook: Muaz El-abdul. Twitter: @abd_muaz.

 

To God belong the East and the West: whithersoever Ye turn, there’s the Presence of God. For God is All Pervading, All-Knowing.

Sura Al-Baqara: 115.

The more you praise and celebrate your life, the more there is in life to celebrate

Oprah Winfrey, Media Mogul. (I think it’s one of the benefits from thank God for His blessings for His servant. In Islam, syukr is the concept for this thing)

Tontonan Untuk Food Blogger

“You’re the butter to my bread and the breath to my life…” (Film Julie&Julia)

Mereka yang senang makanan, mencintai menulis dan tengah bergulat memenangkan passion-nya, film Julie & Julia barangkali pilihan yang tepat untuk ditonton. Ini kali kedua saya menyaksikan film berdasarkan kisah nyata ini, salah satu koleksi DVD yang tersimpan rapi di boks film saya.

Awalnya, selepas melihat acting Meryl Streep yang ciamik dan luarbiasa dalam The Iron Lady, saya merasa addicted (sepertinya juga kangen) untuk melihat Streep lagi. Maka saya pilihlah film tersebut di antara sekian koleksi film saya yang menampilkan Streep sebagai aktrisnya. Anda yang blogger, atau lebih spesifik food blogger, film ini bisa menjadi pintu pencerahan, penyemangat untuk terus menulis di bidang yang Anda cintai: makanan dan memasak.

Nora Ephron, sang sutradara plus penulis skenarionya, menyuguhkan tokoh idola (Julia Child) yang diperankan Meryl Streep dan si pengidola (Julie Powell) yang dimainkan Amy Adams menjadi perkawinan dua generasi dalam menemukan passion hidupnya: memasak. Dalam film tersebut, Julie menjadi food blogger yang tulisanya dibaca banyak orang, diulas media, dan dibukukan. Begitu pula Julia. Berkat kecintaan dan keuletanya dalam memasak, dan ia menuliskanya, bukunya diterbitkan: Mastering The Art of French Cooking. Baik karya Julie maupun Julia menjadi karya best-seller hingga kini.

Ups. Karena ini bukan review film, maaf saya sudahi mengupas detilnya. Yang jelas: cari saja filmnya,dan teruslah menulis berdasarkan passion Anda.

23/05/2012

A.Muaz.

Watch your thoughts, for they become words.
Watch your words, for they become actions.
Watch your actions, for they become habits.
Watch your habits, for they become your character.
And watch your character, for it becomes your destiny.

Margaret Thatcher in The Iron Lady’s movie.

Membaca Sastra itu Tamasya

Membaca karya sastra serupa tamasya jiwa. Lelah menjelajah, misalnya, buku-buku agama atau filsafat atau sosial-budaya atau fisika, maka sastra adalah obat refreshingnya. Semacam oase, menghilangkan dahaga jiwa selepas sekian lama dibebat kerontang. Terlebih bila karya sastra (novel, puisi, cerpen dll) itu menawarkan permainan imaji dan metafor yang menggugah. Sangat memuaskan batin, mampu mengayakan renik-renik jiwa.

Tentu saja, pergulatan dengan teks sastra tidak serta merta mulus dan akhirnya terpuaskan. Ada juga yang saat membacanya seperti membaca pamflet politik atau khutbah-khutbah membosankan, tidak ubahnya artikel superficial. Bila kondisinya demikian, saya pribadi akan tidak lama-lama berkutat di dalamnya. Langsung skipping ke bacaan sastra lain. Seperti ada taman yang indah, menawan, dan menentramkan dengan taman yang kotor, bau dan membosankan. Begitulah kira-kira tamsil karya sastra yang tidak ” berkhutbah” dan “tidak berkhutbah”.

Bila tujuan membaca sastra untuk refreshing, relaksasi, atau bisa jadi meditasi, untuk apa juga membacanya kalau isinya serupa senarai kompilasi khutbah yang difiksikan? Memang hal tersebut berpulang pada cakrawala setiap orang, anasir di dalam horizon si pembaca untuk mempersepsinya sebagai kunci bergulat dengan teks. Karenanya tidak bisa dipaksakan. Teruslah membaca sastra, dan biarlah masa yang akan menjawabnya.

Selamat berakhir pekan! Selamat membaca karya-karya yang memuaskan jiwa! [foto: brandandimage.net]

Cibubur, 18/5/12

Tabik A.Muaz.

The greatest mistake physicians make is that they attempt to cure the body without attempting to cure the mind; yet the mind and body are one and should not be treated separately!

PLATO

Setiap orang berbicara secara terbuka tentang pelajaran matematika, keberhasilan di sekolah, sepakbola, dan hiburan, tetapi mereka bergulat dengan pertanyaan2 paling mendasar ttg eksistensi —cinta, kasih sayang, agama, arti kehidupan, kecemburuan, kebencian—dlm kebingungan yg menggetarkan dan kesendirian yang menyakitkan.

Orhan Pamuk dalam Istanbul: Kenangan Sebuah Kota.

Berguru Kepada Pasangan Cacat

Saya tercenung lama  saat memandang pasutri handicap ini. Speechless. Gambar yang menyentuh, gambar yang membuat saya termenung agak lama untuk menyerap energinya.  Sebuah sikap kebersyukuran yang sempurna di balik fisiknya yang kurang sempurna; sikap yang banyak tidak dimiliki banyak orang, hatta oleh mereka yang raganya lengkap semua.  Merekalah Ahmad dan Fatima, pasangan suami istri yang—barangkali—sudah banyak menginspirasi jutaan orang saat melihatnya.

Read More

Kelana

Bila ada ziarah hakiki, itulah ziarah jiwa. Berkelana di dalamnya tak pernah rampung, selalu koma.

Bila ada kelana hebat, itulah kelana hati. Menjelajah di dalamnya serupa menyusuri labirin. Enigmatik dan misterius.

Bila ada peperangan dahsyat, itulah perang nafsu. Berjuang melawanya serupa Musa diuji Khidir.

Selamat berkelana! Selamat berjuang! Semoga anda menjadi pemenang.

Cibubur, 28/4/12 
A.Muaz.

Langit-Mu, Samudra-Mu [Catatan Jum’at I]

Setiap memandang langit, hati saya selalu berharap: ‘Tuhan, luaskanlah kalbuku seperti ciptaan-Mu itu.’ Jika lanskapnya disepuh warna biru, selalu ada gumam lirih yang dengan perasaan malu ingin saya katakan: ‘Ilahi, cerahkan rumah jiwaku serupa langitmu itu. Selalu.  Pinjami aku secuil cinta-Mu untuk senantiasa damai dan bungah menerima kehidupan ini; memeluk orang-orang terdekat, menjadi sahabat manusia, menjadi sahabat segenap mahluk-Mu.”  

Read More